SLEMAN — Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Sleman terus memperkuat pembinaan atlet secara berjenjang dan berkelanjutan sebagai upaya mempertahankan predikat Sleman sebagai lumbung prestasi olahraga di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Ketua KONI Kabupaten Sleman, Haris Sutarto, S.E., M.T., mengatakan KONI Sleman saat ini mengelola, membina, dan mengoordinasikan 53 cabang olahraga (cabor) binaan.
Menurut Haris, konsistensi pembinaan tersebut telah membuahkan prestasi. Pada Porda DIY 2025, kontingen Sleman berhasil menjadi juara umum untuk keempat kalinya secara berturut-turut, dengan mengoleksi 170 medali emas, 178 perak, dan 203 perunggu. Total perolehan mencapai 551 medali.
“Prestasi tersebut menjadi modal sekaligus tantangan bagi Sleman untuk mempertahankan tradisi juara umum pada Porda DIY XVIII Tahun 2027 di Kabupaten Kulon Progo,” kata Haris, saat jumpa pers , Selasa ( 18/8)
KONI Sleman menargetkan dapat kembali menjadi juara umum sehingga menjadi lima kali berturut-turut.
Enam Pilar Pembinaan Prestasi
Haris menjelaskan, keberhasilan pembinaan atlet tidak dapat dicapai secara instan. Berdasarkan program pembinaan dan prestasi KONI Sleman, terdapat enam pilar penting yang menjadi perhatian.
Pertama, peningkatan kualitas sumber daya manusia, baik atlet maupun pelatih, agar mampu bersaing hingga tingkat nasional dan internasional dengan dukungan pengurus kabupaten, pengurus daerah, maupun klub.
Kedua, sarana dan prasarana olahraga. Ketersediaan tempat latihan yang memadai, peralatan, inventaris, serta kebutuhan bahan habis pakai menjadi bagian penting dalam menunjang proses latihan.
Ketiga, identifikasi bakat dan peningkatan motivasi atlet. Bakat-bakat potensial perlu ditemukan sejak dini, dikembangkan secara tepat, sekaligus dijaga motivasinya agar mampu mencapai prestasi optimal.
Keempat, kompetisi yang berjenjang. KONI mendorong penyelenggaraan kompetisi kelompok umur mulai usia dini hingga remaja sebagai bagian dari proses pembentukan pengalaman bertanding atlet.
Kelima, pendekatan ilmiah dalam pembinaan, termasuk pemenuhan kebutuhan gizi, model latihan yang terukur, serta evaluasi secara berkala. Frekuensi dan pola latihan juga harus disesuaikan dengan usia maupun target kompetisi atlet.
Keenam, dukungan pendanaan yang memadai. Haris berharap dukungan anggaran, termasuk dana hibah, dapat mencukupi kebutuhan program kerja KONI yang telah direncanakan.
“Pembinaan tidak hanya menyangkut kemampuan fisik. Aspek mental dan sosial atlet juga harus diperhatikan agar mereka mampu tampil optimal tanpa kehilangan keseimbangan,” ujarnya.
Puslatkab Jadi Program Unggulan
Salah satu program unggulan KONI Sleman adalah Pusat Pelatihan Kabupaten (Puslatkab). Program ini disiapkan untuk membina ratusan atlet dari berbagai cabor menghadapi multievent tingkat provinsi, khususnya Porda, maupun event nasional resmi yang diselenggarakan masing-masing induk organisasi olahraga.
Puslatkab 2026–2027 diikuti 1.399 peserta, terdiri atas 1.265 atlet dan 134 pelatih dari 50 cabor. Program tersebut berlangsung selama 14 bulan, mulai Juli 2026 hingga Agustus 2027.
Pelaksanaan Puslatkab telah dimulai pada Juli 2026. Para atlet, pelatih, dan ofisial juga mendapatkan perlindungan melalui program JKK.
Para atlet yang masuk Puslatkab merupakan hasil seleksi dari Kejurkab, Porkab, serta berbagai event lain yang diikuti sebelum pelaksanaan Puslatkab.
Proses persiapan menuju Porda juga dilakukan secara ketat. Setiap cabor melakukan seleksi atlet, kemudian menentukan atlet tahap pertama dengan jumlah sekitar 1,5 kali dari jumlah entry by number sesuai ketentuan KONI DIY.
KORKAP Jadi Ujung Tombak Penjaringan Atlet
Selain Puslatkab, KONI Sleman juga memperkuat peran Koordinator Olahraga Kapanewon (KORKAP) yang dilantik untuk periode 2026–2029.
KORKAP diharapkan menjadi unit yang bergerak hingga tingkat akar rumput untuk melakukan pendataan dan penjaringan bibit-bibit atlet potensial.
Atlet yang ditemukan dari tingkat kapanewon selanjutnya diserahkan kepada cabor untuk mendapatkan pembinaan lebih lanjut hingga mampu bersaing di tingkat provinsi, nasional, bahkan internasional.
“Banyak atlet berbakat lahir dari desa. Karena itu, KORKAP harus menjadi ujung tombak dalam menjaring bibit-bibit atlet di Kabupaten Sleman,” kata Haris, mengutip pesan Bupati Sleman Harda Kiswaya saat pelantikan KORKAP.
Penguatan Sistem dan Tata Kelola
KONI Sleman juga memberikan perhatian terhadap aspek perlindungan dan penghargaan bagi atlet, pelatih, serta ofisial. Salah satunya melalui perlindungan BPJS Ketenagakerjaan.
Sementara itu, pemerintah daerah memberikan apresiasi kepada atlet berprestasi, termasuk tali asih bagi peraih medali Porda. Di tingkat kapanewon, dukungan juga dapat diberikan melalui uang pembinaan maupun insentif bagi peraih medali Porkab 2026.
Dari sisi tata kelola, KONI Sleman terus mendorong organisasi olahraga menjalankan AD/ART secara tertib, melaksanakan rapat kerja tahunan, serta melakukan evaluasi secara berkala.
Meski demikian, Haris mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dibenahi. Peningkatan pendanaan dan sarana prasarana menjadi salah satu faktor yang harus terus diperkuat.
Selain itu, fungsi pengendalian dan pengukuran kinerja perlu ditingkatkan melalui standar kerja yang lebih jelas. Sinergi antarpemangku kepentingan, inovasi, transparansi, akuntabilitas, serta pemanfaatan teknologi juga menjadi bagian dari arah kebijakan KONI Sleman ke depan.
Regenerasi atlet turut menjadi perhatian. Pembinaan harus terus dilakukan agar muncul atlet-atlet baru yang memiliki kemampuan dan mental bertanding yang mumpuni.
Kolaborasi dan Konsistensi Jadi Kunci
Haris menegaskan, prestasi olahraga Sleman merupakan hasil proses panjang yang melibatkan banyak pihak.
“Rumusnya adalah kolaborasi, konsistensi, data, dan pembinaan yang berjenjang. Prestasi Sleman bukan sesuatu yang instan,” tegasnya.
Besarnya potensi olahraga Sleman tercermin dari keikutsertaan pada Porda XVII. Saat itu, Sleman mengikuti 521 nomor pertandingan dengan 1.061 atlet, yang menjadi kontingen terbesar sepanjang sejarah.
Dengan sistem pembinaan yang terus diperkuat, KONI Sleman optimistis mampu mempertahankan prestasi sekaligus melahirkan generasi atlet baru.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan KGPAA Paku Alam X agar Sleman terus dikembangkan sebagai lumbung atlet berprestasi DIY.
“Prestasi sejati lahir dari konsistensi, kedisiplinan latihan, dan pengorbanan,” demikian pesan yang menjadi salah satu landasan dalam menjaga kesinambungan prestasi olahraga Sleman.
( Deny ).













