SLEMAN – SPPG Wonokerto menjadi sorotan setelah puluhan siswa dan seorang guru mengalami gejala kesehatan usai menyantap menu MBG.
Peristiwa tersebut terjadi di sejumlah sekolah wilayah Turi, Sleman, Senin (7/9/2026), setelah makanan dari SPPG Wonokerto dikonsumsi.
Kepala SMPN 3 Turi, Widayati mengatakan, makanan MBG tiba di sekolah sekitar pukul 07.10 WIB pagi.
”Pengiriman makanan dari SPPG tiba di sekolah sekira pukul 07.10 WIB,” kata Widayati saat ditemui Senin.
Sesuai SOP, guru piket kemudian melakukan uji organoleptik sebelum makanan dibagikan kepada siswa pada pukul 07.30 WIB.
“Saat itu makanan tampak baik, uji organoleptik juga lolos karena warna makanan dan kuah tidak berlendir,” ujarnya.
Menu MBG tersebut berisi nasi, bola-bola daging, sayur kol, wortel, edamame, serta hidangan penutup berupa semangka kuning.
“Menu MBG yang dibagikan ada nasi, bola-bola daging, sayur kol, wortel, edamame serta semangka kuning,” katanya.
Makanan kemudian dikonsumsi siswa dan guru seperti biasanya. Namun, sekitar pukul 12.00 WIB, kondisi sekolah mendadak berubah.
Seorang guru yang ikut menyantap makanan tersebut tiba-tiba mengalami mual dan muntah berkali-kali hingga membuat pihak sekolah panik.
Mendapati kejadian tersebut, guru pendamping langsung diminta memeriksa kondisi siswa masing-masing sebelum korban berdatangan menuju ruang UKS.
Satu per satu siswa mengeluhkan pusing, mual, sakit perut, hingga muntah, kemudian sejumlah korban dirujuk menuju fasilitas kesehatan.
Data sementara mencatat 23 siswa SMPN 3 Turi dan seorang guru mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Selain SMPN 3 Turi, gejala serupa juga dilaporkan dialami siswa SMK Muhammadiyah 1 Turi serta SD Ma’arif Balirante.
Panewu Anom Turi, Yunan Nurtrianto menyebut terdapat tiga sekolah terdampak dengan jumlah korban berbeda berdasarkan laporan sementara pemerintah.
“SMK Muhammadiyah 1 Turi ada 19 siswa, SMP Negeri 3 Turi 23 siswa dan satu guru,” kata Yunan.
“SD Muhammadiyah Balerante dua orang siswa. Mereka mengalami gejala serupa, seperti mual, pusing, sakit perut, dan muntah,” lanjutnya.
Yunan mengatakan, pemerintah kapanewon masih memantau sekolah lain yang memperoleh makanan dari SPPG Wonokerto guna mengantisipasi korban tambahan.
“Keracunan itu reaksinya tidak harus hari ini, bisa sampai tiga hari ke depan,” ujar Yunan kepada wartawan.
Menurutnya, terdapat empat sekolah yang menerima kloter pagi, termasuk TK Indriyasana, namun makanan segera ditarik sebelum dikonsumsi siswa.
“Kami masih terus melakukan pemantauan, termasuk menyiagakan ambulans agar korban bisa segera dibawa ke Puskesmas,” katanya.
Yunan menegaskan penanganan kesehatan siswa menjadi perhatian pemerintah, sementara biaya pengobatan akan ditanggung SPPG maupun APBD Kabupaten Sleman.
“Kalau ada gejala-gejala bisa segera dilaporkan dan dibawa ke faskes terdekat,” tegas Yunan.
Terkait kemungkinan pemberhentian sementara SPPG Wonokerto, Yunan menyebut mekanismenya berada pada Kepala SPPG tingkat kabupaten berdasarkan rekomendasi Dinas Kesehatan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan dari pihak SPPG Wonokerto terkait peristiwa ini.
( WAN/red)













