Sleman ( DIY ) ,– Kerusakan ruas Jalan Kalasan–Cangkringan kian dikeluhkan warga. Selain berlubang dan retak di banyak titik, genangan air saat hujan disebut memperparah kondisi jalan hingga menyerupai aliran sungai kecil yang membahayakan pengendara.
Mbah Mat (48), warga Kalasan yang bekerja sebagai sekuriti di salah satu pabrik di kawasan tersebut, mengungkapkan bahwa dampak kerusakan jalan sudah dirasakan langsung oleh para karyawan.
“Kalau habis hujan, air menggenang kayak sungai. Ada ratusan lubang di sepanjang jalan. Beberapa karyawan kami sudah jatuh karena masuk lubang. Bahkan ada yang HP di sakunya sampai terpental dan hilang karena motornya menghantam lubang,” ujarnya kepada tim investigasi. Senin ( 2/3).
Menurutnya, persoalan tak hanya soal lubang dan genangan. Debu tebal saat cuaca kering serta muatan kendaraan berat yang diduga melebihi kapasitas juga kerap menjadi ancaman.
“Belum lagi debu. Kadang muatan berlebih jatuh ke jalan. Untung saja tidak sampai kena pengendara lain,” tambahnya.
Dugaan Dampak Aktivitas Proyek Tol
Warga menduga kerusakan jalan semakin masif sejak meningkatnya aktivitas kendaraan berat yang keluar-masuk proyek pembangunan Jalan Tol Solo–Yogyakarta–YIA. Truk pengangkut material disebut melintasi jalur tersebut hampir setiap hari.
Secara teknis, jalan kabupaten memiliki batas daya dukung beban tertentu. Jika dilintasi kendaraan bertonase tinggi secara terus-menerus tanpa penguatan struktur, aspal dan lapisan pondasi jalan rentan mengalami amblas dan retak.
Ruas Kalasan–Cangkringan sendiri berada di wilayah administratif Sleman, sehingga kewenangan pemeliharaan berada di pemerintah kabupaten. Namun, jika terbukti kerusakan berkaitan langsung dengan aktivitas proyek strategis nasional, mekanisme tanggung jawab dari pihak pelaksana proyek dapat menjadi bagian dari solusi.
Sorotan Soal Drainase dan Pajak
Mbah Mat juga menyoroti kondisi drainase yang dinilai tidak berfungsi optimal. Parit di sisi jalan disebut dangkal dan tidak mampu menampung debit air hujan, sehingga genangan kerap bertahan lama dan mempercepat kerusakan aspal.
“Sebaiknya jalan Cangkringan segera diperbarui sekalian dengan parit-paritnya. Perusahaan sudah bayar pajak sangat besar supaya semua berjalan lancar, tapi beberapa tahun ini saya lihat tidak ada dampaknya bagi jalan di depan pabrik,” katanya.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaan sebagian pelaku usaha dan pekerja terhadap kondisi infrastruktur penunjang aktivitas ekonomi.
Desakan Perbaikan Menyeluruh
Warga berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait segera melakukan:
1. Perbaikan permanen dengan peningkatan kualitas struktur jalan.
2. Normalisasi dan pendalaman drainase.
3. Pengawasan ketat kendaraan bertonase berlebih.
4. Evaluasi jalur kendaraan proyek agar tidak merusak jalan warga.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari dinas terkait maupun pihak pelaksana proyek tol mengenai jadwal perbaikan komprehensif di ruas tersebut.
Tim investigasi masih berupaya mengonfirmasi pihak berwenang guna memastikan langkah konkret penanganan, mengingat jalur ini merupakan akses vital bagi warga, pekerja, dan distribusi logistik di kawasan industri Kalasan–Cangkringan.
( Dony )













