JAKARTA||Buserinvestigasi.id – Persiapan menuju Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama mulai berjalan dengan dibentuknya panitia inti yang akan mengawal seluruh rangkaian agenda organisasi terbesar di lingkungan Nahdlatul Ulama tersebut.
Kepanitiaan inti dipimpin oleh Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf, yang dipercaya untuk mengoordinasikan berbagai tahapan persiapan menjelang pelaksanaan Muktamar.
Agenda lima tahunan NU tersebut diproyeksikan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026.
Penentuan waktu ini masih bersifat tentatif sambil menunggu finalisasi berbagai aspek teknis dan organisasi yang tengah disusun oleh panitia bersama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Sebelum Muktamar digelar, PBNU akan lebih dahulu menyelenggarakan dua forum strategis, yakni Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) yang dijadwalkan berlangsung pada April 2026.
Kedua forum tersebut menjadi ruang pembahasan berbagai isu strategis yang akan menjadi bahan rekomendasi dan keputusan dalam Muktamar.
Dalam struktur kepanitiaan, PBNU juga menunjuk KH Said Asrori sebagai Ketua Steering Committee (SC) yang bertugas mengawal arah substansi serta materi yang akan dibahas dalam forum tertinggi organisasi tersebut.
SC berperan penting memastikan setiap pembahasan tetap berada dalam koridor nilai dan tradisi keilmuan NU.
Sementara itu, hingga kini lokasi penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama masih dalam tahap pembahasan.
Sejumlah daerah disebut telah mengajukan diri sebagai tuan rumah, namun keputusan final akan ditetapkan melalui rapat resmi PBNU dalam waktu mendatang.
Muktamar mendatang diperkirakan akan membahas berbagai agenda strategis organisasi, mulai dari penguatan khittah Nahdlatul Ulama, respons terhadap dinamika keumatan, hingga peran NU dalam penguatan ekonomi umat dan kehidupan kebangsaan di Indonesia.
Panitia berharap seluruh rangkaian proses menuju Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dapat berjalan secara kondusif, demokratis, dan partisipatif.
Selain menjadi forum evaluasi organisasi, Muktamar juga akan menjadi momentum penting dalam menentukan arah kepemimpinan serta peran NU dalam menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan kebangsaan di masa mendatang.(Redaksi)













