Manado — Aksi pencurian dengan kekerasan kembali menghantui warga Lingkungan 3, Kelurahan Pakowa, Kecamatan Wanea, Kota Manado. Pada Sabtu 25 April 2026, Kali ini, rumah milik Djoni Beslar menjadi sasaran pelaku yang diduga telah merencanakan aksinya dengan matang.
Peristiwa tersebut terjadi pada tengah malam sekitar pukul 00.10 WITA. Seorang pria tak dikenal datang dengan membawa linggis, senjata tajam, serta senter. Pelaku diperkirakan memiliki tinggi sekitar 160 cm dan memiliki tato di bagian punggung.
Dengan nekat, pelaku mencoba membobol rumah melalui jendela bagian depan sisi kanan. Ia mencongkel dan merusak jendela untuk masuk ke dalam rumah. Saat kejadian, Djoni Beslar sedang berada di dalam rumah dan tengah asyik menggunakan ponselnya.
Suara mencurigakan dari arah depan rumah membuat korban waspada. Betapa terkejutnya ia saat mendapati jendela sudah dalam kondisi terbuka akibat dirusak pelaku. Beruntung, terdapat kursi plastik yang sebelumnya disusun di dekat jendela, sehingga menghalangi pelaku untuk masuk lebih jauh ke dalam rumah.
Dalam situasi tegang tersebut, korban sempat mendengar ancaman dari pelaku yang berkata, “Maju kalau berani.” Diliputi kepanikan, Djoni memilih berteriak keras untuk meminta pertolongan. Teriakan tersebut membuat pelaku panik dan langsung melarikan diri sebelum sempat beraksi lebih jauh.
Kejadian ini memicu kegaduhan di lingkungan sekitar. Warga yang belakangan ini merasa resah akibat maraknya aksi pencurian, mulai meningkatkan kewaspadaan. Bahkan, beberapa warga telah menyiapkan alat perlindungan diri sebagai langkah antisipasi.
Salah satu warga dengan nada geram menyatakan bahwa jika pelaku tertangkap, warga tidak akan segan-segan melumpuhkan pelaku di tempat. Pernyataan ini mencerminkan tingginya tingkat keresahan masyarakat terhadap situasi keamanan yang kian memburuk.
Warga pun mendesak Kepala Lingkungan 3,Sdra.Jansen Wuisang, untuk segera mengambil langkah cepat dan berkoordinasi dengan pihak Polsek Wanea. Mereka berharap adanya tindakan konkret dari aparat kepolisian, terutama peningkatan patroli rutin di wilayah tersebut.
Ironisnya, meskipun di Lingkungan 3 telah dibentuk sistem keamanan lingkungan (siskamling), pelaksanaannya dinilai tidak efektif. Tidak adanya patroli keliling kampung menjadi celah bagi pelaku kejahatan. Bahkan, sejumlah warga menyoroti kebiasaan berkumpul di pos ronda yang justru diisi dengan aktivitas bermain domino dan kartu remi hingga subuh, tanpa fungsi pengawasan yang nyata.
Kondisi ini semakin memperparah keresahan warga yang kini merasa tidak lagi aman di lingkungan sendiri. Mereka berharap ada pembenahan serius dalam sistem keamanan lingkungan serta tindakan tegas dari aparat sebelum kejadian serupa terulang dengan dampak yang lebih fatal.













