SAMPANG ll buserinvestigasi,id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi peningkatan gizi anak sekolah kini menuai sorotan di tingkat lapangan. Di TK Muslimat NU III Desa Pangarengan, Kecamatan Pangarengan Kabupaten Sampang Jawa Timur, jatah makanan yang dibagikan kepada siswa pada Senin, 16 Maret 2026, memunculkan tanda tanya besar terkait kualitas dan kesesuaian dengan standar program nasional.

Berdasarkan dokumentasi yang diterima awak media, paket makanan yang dibagikan kepada siswa hanya terdiri dari satu buah jeruk, satu kotak susu kecil, telur, ayam potong dan wadah plastik. Paket tersebut disebut sebagai jatah konsumsi untuk tiga hari bagi setiap anak.
Jika dihitung menggunakan harga pasar sederhana, nilai makanan tersebut diperkirakan sebagai berikut:
- Telur Rebus : Perkiraan Rp.2.000-Rp.2.500
- Ayam Potong : Perkiraan Rp.2.000-Rp.2.500
- Jeruk : Perkiraan Rp2.000 – Rp3.000
- Susu kotak kecil : Rp2.000 – Rp3.000
- Susu kotak kecilRp2.500 – Rp3.500
- Kotak Makan PlastikRp1.000 – Rp2.000
Dengan demikian, total nilai makanan diperkirakan hanya sekitar Rp10.500 hingga Rp15.000
Padahal, dalam skema program Makan Bergizi Gratis untuk tingkat TK/PAUD, nilai bahan makanan diperkirakan mencapai sekitar Rp8.000 per anak per hari. Jika paket tersebut memang diperuntukkan untuk tiga hari, maka total nilai makanan yang seharusnya diterima setiap siswa mencapai:
Rp8.000 × 3 hari = Rp24.000 per anak
Artinya terdapat potensi selisih nilai sekitar Rp9.000 sampai Rp13.500 per siswa dibandingkan dengan nilai makanan yang diterima.
Kondisi ini memicu keprihatinan dari sejumlah orang tua siswa dan guru di sekolah tersebut. Beberapa dari mereka yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan menyayangkan porsi makanan yang dibagikan.Senin,(16/3/2026)
“Kalau ini benar untuk tiga hari, tentu sangat disayangkan. Anak-anak butuh makanan bergizi, bukan sekadar buah dan susu saja,” ujar salah satu wali murid.
Hal senada disampaikan seorang guru TK yang juga mengaku terkejut melihat porsi makanan yang diterima siswa.
“Kami yang selalu disalahkan oleh wali murid,dan biasanya ada group wa bagi sekolah yang mendapat MBG dengan SPPG, ini g ada groupnya” kesalnya.
Para orang tua dan guru berharap pihak penyelenggara segera melakukan evaluasi terhadap dapur penyedia makanan, agar kualitas makanan yang dibagikan benar-benar sesuai dengan tujuan program.
Jika kondisi tersebut terjadi pada satu sekolah dengan 100 siswa, maka potensi selisih nilai makanan dapat mencapai:
- Rp900.000 – Rp1.350.000 Juta dalam satu siklus pembagian tiga hari.
Apabila pola serupa terjadi pada banyak sekolah atau berlangsung dalam jangka waktu lama, maka nilai selisih anggaran yang beredar bisa menjadi jauh lebih besar.
Program Makan Bergizi Gratis pada dasarnya dirancang sebagai intervensi gizi nasional bagi anak-anak sekolah. Namun jika kualitas makanan yang diterima tidak sesuai standar, maka tujuan utama program tersebut berpotensi melenceng dari harapan.
Pengawasan yang lebih ketat serta transparansi dalam pengelolaan dapur penyedia makanan atau SPPG dinilai menjadi kunci agar program yang menyasar jutaan anak ini tidak sekadar menjadi program di atas kertas.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola dapur SPPG yang menyalurkan makanan ke TK Muslimat NU III belum memberikan keterangan resmi terkait komposisi paket MBG yang dibagikan kepada para siswa.(Rosi)













